Kamis, 24 September 2009

Ilmu Jumat

Masuk Surga Tanpa Hisab

Orang yang masuk surga ada 3 macam, yaitu: Langsung masuk surga tanpa hisab (dihitung kebaikan dan keburukannya), masuk surga setelah dihisab, dan masuk surga setelah diadzab terlebih dahulu di neraka. Tentunya semua orang akan mengidam-idamkan masuk surga tanpa harus masuk neraka. Tapi bagaimana caranya? Mungkin ini adalah pertanyaan yang terlintas di benak setiap orang secara spontan begitu membaca judul ini.

Sempurnakan Tauhid !

Agar masuk surga tanpa hisab, syarat yang harus dipenuhi adalah membersihkan tauhid dari noda-noda syirik, bid’ah, dan maksiat. Alloh berfirman, “Sesungguhnya Ibrohim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Alloh dan hanif (lurus). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Rabb).” (An Nahl: 120). Dalam ayat ini, Alloh memuji nabi Ibrohim dengan menyebutkan empat sifat, yang apabila keempat sifat ini ada pada diri seorang insan, maka ia berhak mendapatkan balasan yang tertinggi, yaitu masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.

Mencontoh Para Nabi Dalam Bertauhid

Di dalam Al Qur’an Alloh memberikan uswah (teladan) kepada kita pada dua sosok manusia yaitu Nabi Ibrohim dan Nabi Muhammad ‘alaihimashsholaatu was salaam. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrohim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja’.” (Al Mumtahanah: 4)

Perhatikanlah, Ibrohim ‘alaihis salam menjadi teladan dengan memurnikan tauhid dengan cara berlepas diri dari kesyirikan. Dalam ayat selanjutnya, Alloh berfirman, “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrohim dan umatnya) ada teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Alloh dan (keselamatan pada) hari kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6). Tidak diragukan lagi, balasan yang paling besar dan keselamatan yang dimaksud adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab. Itulah keselamatan yang hakiki yang dinanti oleh setiap jiwa yang pasti akan merasakan mati.

Alloh juga berfirman tentang Nabi kita Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” (Al Ahzab: 21). Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham tentang tauhid, maka orang yang hendak mempraktekkan tauhid dalam dirinya harus mencontoh ajaran beliau. Ya Alloh, masukkanlah kami dalam golongan orang yang mengharap rahmat-Mu dan banyak menyebut-Mu.

Patuh Terhadap Perintah Alloh

Nabi Ibrohim adalah seorang yang sangat patuh kepada Alloh, teguh dalam ketaatannya dan senantiasa berada dalam ketundukannya, apapun keadaannya. Buktinya ketika beliau diuji dengan perintah untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau pun tetap patuh melaksanakannya (Qoulul Mufid karya Syaikh Al Utsaimin). Begitu juga keturunannya, pemimpin para Nabi, Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, hamba Alloh yang paling taat. Alloh berfirman, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (Az Zumar: 9)

Keluar dari Kegelapan Syirik Menuju Cahaya Tauhid

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Hanif adalah menujukan ibadah hanya kepada Alloh (tauhid) dan berpaling dari peribadatan kepada selain-Nya (syirik).” (Fathul Majid). Inilah sifat orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, yakni betul-betul menjaga kemurnian tauhidnya dengan berpaling sejauh-jauhnya dari kesyirikan dengan segala macam pernak-perniknya. Mujahid berkata, “Nabi Ibrohim adalah seorang imam walaupun beliau beriman seorang diri di tengah kaumnya yang kafir.” (Tafsir Ibnu Katsir, An Nahl: 120). Maksudnya beliau adalah sosok yang selamat dari kesyirikan baik dalam perkataan, perbuatan, maupun keyakinan.” (Al Jadid karya syaikh Al Qor’awi). Maka untuk memurnikan tauhid, kita harus berpaling dari syirik dan pelakunya.

Tawakkal Kepada Alloh, Itu Kuncinya

Mari kita simak sabda Nabi yang paling kita cintai dan sangat mencintai umatnya, Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam tentang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Beliau bersabda, “Beberapa umat ditampakkan kepadaku, lalu kulihat seorang nabi bersama beberapa orang, ada seorang nabi bersama satu atau dua orang, dan ada seorang nabi yang tidak disertai siapapun. Tiba-tiba ditampakkan kepadaku satu golongan dalam jumlah yang amat banyak, sehingga aku mengira mereka adalah umatku. Maka ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Ini adalah Musa dan kaumnya.’ Aku melihat lagi, ternyata di sana ada jumlah yang lebih banyak lagi. Ada yang memberitahukan kepadaku, ‘Itulah umatmu, tujuh puluh ribu orang di antara mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.’ Kemudian beliau bangkit dan masuk rumah. Maka orang-orang berkumpul bersama orang-orang yang sudah berkumpul. Sebagian mereka mengatakan, ‘Barangkali mereka adalah para sahabat Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam.’ Sebagian yang lain mengatakan, ‘Boleh jadi mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan sesuatu pun beserta Alloh.’ Mereka pun mengatakan banyak hal. Lalu Rosululloh shalAllohu ‘alaihi wa sallam keluar menemui mereka dan mereka memberitahukan kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta ruqyah, tidak meminta untuk (berobat dengan cara) disundut dengan api, dan tidak melakukan tathayyur, serta mereka bertawakal kepada Alloh.’ Lalu ‘Ukkasyah bin Mihshon berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau termasuk golongan mereka.’ Kemudian ada orang lain berdiri dan berkata, ‘Berdo’alah kepada Alloh agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.’ Beliau bersabda, ‘Engkau sudah didahului ‘Ukasyah.’” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Di antara pelajaran paling berharga yang bisa dipetik dari hadits ini adalah bahwa tidak meminta ruqyah, tidak berobat dengan cara disundut dengan besi panas (kayy), dan tidak menganggap akan mengalami kesialan setelah mendengar atau melihat sesuatu (tathoyyur) merupakan wujud dan realisasi dari tawakkal kepada Alloh. Karena itulah Rosululloh menganjurkan kepada umatnya agar tidak melakukan ketiga hal tersebut, karena pengaruh ruqyah dan kayy yang sangat kuat sehingga dikhawatirkan seorang hamba menggantungkan harapan kesembuhannya kepada cara pengobatan tersebut dan bukannya bersandar kepada Alloh. Khusus untuk tathoyyur maka hukumnya tidak diperbolehkan. Kesimpulannya, keadaan orang yang akan masuk surga sangat tergantung dari kadar tawakkal setiap orang, semakin tinggi tingkat tawakkalnya semakin tinggi pula tingkat kesempurnaan tauhidnya. Allohlah tempat kita bersandar dan menyerahkan urusan. Wallohu a’lam.

(Disarikan dari kajian Kitab Tauhid bersama Al Ustadz Abu Isa -hafizhohullah-)


Kamis, 17 September 2009

Cinta

Demi mendapatkan cinta kadang seorang pencinta rela berjuang demi mendapatkannya
seperti lagu ini:


Kutanamkan hatiku, tumbuh bersamamu
Takkan kupetik hingga akhir masa hidupku
Dengarlah.. kau dengar
Selama bumi berputar, ku tetap milikmu

Dewi.. bukalah kedua matamu
Pandanglah ruang di hatiku
Dewi.. berikan nafasmu untukku
Agar kuhirup bersamamu
bersamamu… terus bersamamu

Ooh…
Dengarlah, kau dengar
Selama bumi berputar, ku tetap milikmu

Dewi.. bukalah kedua matamu
Pandanglah ruang di hatiku
Dewi.. berikan nafasmu untukku
agar kuhirup bersamamu
bersamamu.. terus bersamamu
bersamamu.. terus bersamamu
bersamamu.. terus bersamamu

Lirik Lagu Indonesia DEWI - Alexa

Rabu, 16 September 2009

Khayalan

Kebahagiaan mungkin terasa nikmat bila dapat kita curahkan bersama teman,keluarga, atau mungkin pacar kehangatan dan rasa saling menghargai mungkin memeiliki sensasi akan kehidupan

Siapapun pernah bermimpi. Ini setidaknya menurut pengetahuan dan keyakinan saya. Entahlah sesungguhnya apakah memang benar-benar ada orang yang hidup di dunia ini yang tidak pernah mengalami mimpi. Jika memang benar adanya, ada orang yang tak pernah mengalami kejadian atau pengalaman mimpi seperti ini, sungguh benar-benar mengherankan saya. Sebagai seorang yang telah menempuh kehidupan dalam rentang waktu yang cukup lama, saya semenjak kecil sering bermimpi. Tentunya saya bermimpi dan masih mengingat beberapa mimpi saya, ketika saya juga telah memiliki kesadaran yang terinsafi. Pertanyaan saya sesungguhnya adalah saya sering kali tidak mampu membedakan antara dunia “nyata” dan dunia mimpi saya. Sungguhpun saya telah bangun saya juga sering mengalami kejadian yang masih seperti mimpi. Demikian pula sebaliknya. Ketika saya telah terjaga dan merasa tidak bermimpi lagi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh kejadian bahwa saya kok terjaga lagi dari mimpi. Atau jangan-jangan saya bermimpi sekarang ini. Saya sendiri sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya tidak ada argumen atau alasan yang bisa atau benar-benar falid dan tak tergoyahkan apakah sesungguhnya kita berada di alam mimpi atau tidak. Namun seperti imajinasinya Descartes, dengan mimpi dan kesadaran kita atas mimpi tersebut, kita tahu bahwa kita ADA. Dengan mimpi, saya tahu bahwa saya ADA. Seberapapun berkuasanya seseorang untuk menyingkirkan kepercayaan bahwa saya tidak ada, tidak mampu menghilangkan keyakinan saya bahwa saya ADA.

Apakah mimpi sekedar bunga tidur? Dalam beberapa hal memang hal ini sepertinya benar. Namun Kata Frued mimpi itu sebenarnya memiliki arti. Mimpi seringkali merupakan pemenuhan hasrat kita yang tidak terlaksana di dunia nyata. Demikianlah apa yang dikatakan oleh Frued. Walaupun tidak semua kasus mimpi memiliki kejadian seperti yang dijelaskan oleh Frued namun ada juga mimpi yang benar-benar cocok dengan penjelasan Frued.

Menurut Frued, mimpi bisa juga terenkripsi atau tersimbolkan. Dalam hal ini mimpi sebagai pemenuhan kebutuhan atau hasrat tak sadar, tampil dalam simbol-simbol tertentu. Dengan demikian perlu dilakukan penerjemahan atas simbol-simbol tersebut agar dapat diketahui maksud yang sebenarnya. Tafsif mimpinya Frued merupakan penjelasan mengenai hal-hal seperti ini

Kalau ditinjau dari segi ilmiah atau sesuatu yang dapat diukur, seseorang yang sedang bermimpi menunjukkan aktifitas otak dengan gelombang tertentu di dalam otak yang berbeda dengan ketika kita tersadar atau ketika tertidur lelap. Gerakan mata orang yang bermimpi juga bisa dibaca. Rapid Eye Movement merupakan penjelasan ilmiah yang dapat diukur dan dijadikan indikator apakah seseorang itu sedang bermimpi atau tidak.

Ada hal yang menjadi batas pengalaman saya dalam hal mimpi khususnya menyangkut tidur. Seberapapun kuat usaha saya untuk mengetahui kapan saya jatuh tidur dan kemudian bermimpi saya tidak pernah sampai mengetahuinya. Saya tertidur dan segenap pengalaman waktu saya, pengalaman pikiran dan sensasi saya seolah-olah menghilang. Saya seperti tidak lagi berada di dunia nyata dan entah pergi kemana. Saya menghilang dan tiba-tiba kemudian bangkit lagi. Tidur merupakan kejadian yang sampai saat ini selalu membuat saya terheran-heran. Sampai-sampai saya berfikir apakah seperti ini kematian yang akan saya hadapi nanti. Apakah mati merupakan hal yang sama dengan jatuh tertidur? Khususnya tetidur lelap tanpa mimpi. Saya tidak tahu. Dengan demikian tidur sebenarnya bukan merupakan pengalaman sadar kita. Ketika kita bangunlah kita memiliki pengalaman. Tidur adalah pengetahuan, bukan pengalaman sadar. Lalu ketika bermimpi apakah saya bangkit dari tidur atau tidak?

Bermimpi setidaknya merupakan kebangkitan semu saya dari kematian sementara saya. Bermimpi merupakan pengalaman sadar saya seperti halnya pengalaman di dunia nyata. Namun karena saya sering tidak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan maka saya sendiri terus dihinggapi kebingungan bagaimana sebenarnya mekanisme mimpi ini terjadi. Tentunya penjelasan yang ingin saya peroleh bukanlah penjelasan materialistik seperti rekaman kejadian yang ada di otak kita maupun rekaman gerakan mata kita. Sampai saat ini mimpi selalu saja merupakan aspek yang penuh subjektifitas. Terkadang saya bermimpi bahwa saya bukanlah seorang Haqiqie Suluh. Tetapi seseorang yang memiliki nama dan wajah yang lainnya. Betapa mengejutkan sering kali mimpi saya.